BIOGRAFI KELAM SANG SANTRI

Hamzah
Dosen FSEI IAIN Ternate



   Gedung Pondok Pesantren Asadiyah, Sengkang, Wajo, Sulsel.

Saat usia dini saya dipilihkan orang tuaku, menempuh jalur pendidikan Pesantren.  Tidak kurang dari 12 tahun lamanya, saya bergelut di lembaga pendidikan yang mengutamakan pendidika agama Islam.
Selama 12 tahun di pondok pesantren, tentu saya memiliki segudang pengalaman.  Suka dan duka hidup sebagai santri sejak tahun 70-an sampai awal 80-an, sungguh sangat terkesan. Jujur saya akui, dukanya lebih mendominasi.  Pahit getirnya menjadi bayang-bayang kelam tahun demi tahun kulewati.  Suka dan senangnya, nyaris tidak menjadi takdir saya.

Sebagai wong ndeso lan cilik.  Berasal dari keluarga berekonomi "seret", tentu saya tidak perlu diajari bagaimana cara menghadapi penderitaan dan kesendirian ? Bagaimana pahit getirnya berjuang sendiri ? Lah, derita di atas derita sudah menjadi suratan takdir saya. Berpuluh-puluh tahun jatuh-bangun, bahkan terkadang susah bangunnya, lantaran derita demi derita teramat mendera hidup saya. Saya menjalani hari-hari berat itu selama kuramg lebih 25 tahun, ditambah pasca keluar dari pesantren, dengan apa adanya. Jauh di bawah standar secara ekonomi dan sosial.  Saya merasa  bak anak ayam kehilangan induk, Laksana mati segan hidup tak mau, selama bertahun-tahun.

Saya menghadapi semuanya dengan cara saya sendiri.  Bahkan merasakan sendiri jua. Saya pantang membuat sulit orang lain dengan cara meminta bantuan.  Biarkan saya menjalani seberat apapun hidup ini.  Bagi saya, menderita dan melarat itu adalah hal terbaik yang Allah takdirkan kepada saya. Oleh takdir memaksa saya  hidup secara fatalis.Tidak ada pilihan lain !

Ibunda yang menjadi single fighter, pasca diceraikan oleh Ayah saya (الله يرحمه), semenjak saya berumur setahunan.  Tentu saja menjadi pukulan telak bagi keluarga kami.  Praktis Ibundalah menjadi  tulang punggung bagi keluarga kami selama bertahun-tahun, bahkan sampai ketiga puteranya telah meraih sarjana strata satu dan dua.  Beliau berjuang mendidik dan membiayai kami,  sebelum beliau di panggil kembali ke hadirat-Nya.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.  Sakit asma yang menggerogoti tubuh beliau, mengantar beliau harus benar-benar kembali ke peristirahatan terakhirnya. Ke pangkuan Sang Pencipta.

Selamat jalan Ibunda. Pejuang tangguh kami.

Babak baru penderitaan segera berawal di sini.  Genderang kesusahan jilid berikut, sudah ditabuh oleh entah malaikat siapa ?
Saat itu, usia dan pemikiran saya belum sampai kepada wacana teologis "melawan takdir" karya Prof. Hamdan Juhanis.  Atau lari dari takdir satu kepada takdir yang lain, punya khalifah Umar bin Khathab RA.

Lima tahun saya nyantri setingkat Ibtidaiyah dengan baik dan diputuskan sebagai santri berprestasi.  Buktinya, kata "Anregurutta", Kiyai Haji Muhammad Hasyim "kamu tidak usah menjalani belajar di kelas lima, langsung kelas enam".  Menurut saya, ini penting, sebab babak hidup tahap demi tahap selsnjutnya, kondisi ini berperan penting dan mendeterminasi.

Saya bisa menyelesaikan setahun terakhir di kelas enam ini dengan lebih baik lagi.  Predikat "bintang pelajar" saya sandang.  Inilah penghargaan pertama yang saya persembahkan buat Ibunda tercinta.  Saat saya buka "syahadah" itu dan menjelaskan perihalnya, beliau sumringah  bahagia. Terpancar dari raut wajahnya yang susah disembunyikan. Beliau memeluk saya seraya membisikkan kalimat "attunru-tunruko nak magguru" (belajar yang rajin ya nak).

12 tahun di pondok As'adiyah, Sengkang, Wajo, bukan waktu singkat.  Selain pengalaman pahit yang saya rasakan, tentu berlaksa makna dan pelajaran hidup yang saya petik.  Dasar-dasar pendidikan Akidah dan Akhlak, tertanam dan tertancap kokoh dalam batin saya.  Bagiku, inilah pendidikan yang paling fundamental bakal menjadi kompas kelak ketika mengarungi hidup yang serba sulit itu.

Ajaran-ajaran Angeruttua yang saya peroleh pada pengajian kitab Kuning berbagai tema di setiap bakda Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh, sarat dengan substansi Islam Akidah, Syariah dan Akhlak.  Bahkan selain itu, saya bisa "sedikit" membaca kitab Kuning, lantaran Anregurutta memang semuanya ahli Qawa'id.  Kiyai generasi pertama (kecuali Anregurutta KH. Muhammqd As'ad-pendiri Ponpes As'adiyah), saya sempat berguru langsung kepada mereka.  Sebut misalnya Anregurutta KH. Muhammad Yunus Martan, KH. Abdullah Martan, KH. Hamzah Manguluang, KH. Hamzah Badawi,  KH. Abdullah Pabbaja, KH. Yusuf Surur, KH. Abunawas Bintang, KH. Muh. Ilyas Sakewe, KH. Ali Pawellangi, KH. Hasan Rewo, KH. Abdul Gani, KH. Syuaib dan masih banyak Kiyai lain yang sanad bergurunya tersambung ke Mekkah al-Mukarramah.

Bekal ilmu mondok saya bertahun-tahun di As'adiyah, mengantar dan membantu saya mampu kuliah dengan baik di S1 IAIN Alauddin Ujung Pandang,   1987.  S2 IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh, 1995 dan S3 UIN Alauddin Makassar, 2003.

Saya jujur mengakui bahwa saya merasa iri, sebab banyak seangkatan dan teman saya di S1, S2 dan S3 yang telah berhasil meraih gelar guru besar.  Saya sadar bahwa ini adalah nasib atau pilihan hidup.  Pilihan hidup secara akademik yang saya pilih sendiri.  Selain salah, juga tidak maksimal.  Jauh dari kata "maksimal".

Ada rasa bersalah yang selalu terngiang di telinga batinku. Bisikan Ibunda di atas, belum saya penuhi.  Saya dan mungkin sebagian teman, dimanjakan dan dininabobokkan oleh sebuah armosfir akademik yang santai dan kontraproduktif.  Lingkungan kampus yang belum memiliki kompetisi dengan kampus lain yang masih sangat rendah.  Ranking atau Indeks kampus kita masih tetap bertengger paling bawah dibanding dengan kampus-kampus lain.

Ini bukan pesimisme, apalagi penyesalan.  Tapi ini adalah salah langkah dan perencanaan meleset.  Sejatinya di lingkungan mana dan kapanpun kita berada, optimisme dan daya juang akademik wajib diprioritaskan.

Ini bukan kompetisi cerdas dan tidak cerdas.  Bisa membaca atau tidak bisa membaca buku berbahasa Asing.  Tapi ini persaingan keuletan dan ketangguhan berkarya. Berkarir secara lebih produktif, menjadi kata kunci dewasa ini.

Saya merasa sangat malu akibat budaya baru "malas" yang saya bangun sendiri, kok menjadi momok mengerikan dan menghantui saya saat ini.  Perlahan tapi pasti, mengantar saya menjadi SDM yang lembek dan terkadang pecundang.

Ccceh !!! Saya tentu marah kepada egoku sendiri.  Kepada tradisi baru yang rapuh dan "jahiliyah" ini.

Bertahun-tahun saya digembleng dengan gaya hidup keras, tegas dan tidak mengenal menyerah, ala pesantrenku. Kehidupan liar di jalanan, keluar-masuk sel bahkan penjara, saya lalui dengan kepala tegak, meski penuh kebodohan.  Tapi ini prinsip bung ! Saya bertahun-tahun digembleng oleh sejumlah Kiyai saya yang perinsipnya keras dan tidak pandang siapa. Ajaran itu benar-benar merasuk ke dalam jiwaku. Model memberantas kemungkaran, mulai menjadi prinsip utama, jalan jihad saya kala itu. Saat itu saya benar-benar menjelma menjadi manusia yang tidak kenal rasa takut kepada siapapun, apalagi menyerah di depan geng-geng preman pelaku kezgaliman dan ketidakadilan.  Tidak pernah sedikitpun saya bergeming menghadapi aangkara-murka mereka.  Menurut saya, inilah petualangan sesungguhnya.  Penuh dengan keasyikan dan menghidupkan nyali "jihad".

Tapi sekarang apa yang terjadi ?Kok jiwa keras dan tangguh itu, sekonyong-konyong hilang tak beerimba. Mengapa saya bisa tiba-tiba menjadi salah seorang dari "dhu'afa'" akademik dan pendakwah nahi mungkar yang keropos ?

Filsafat Bugis "tellaabuu essoe ri tengngana bitarae", coba saya baca dan simak ulang, semoga filosofi kehdupan orang-orang Bugis yang berintisari bahwa  hidup belum berakhir. Mentari takkan surut di tengah cakrawala.  Semoga mampu memantik kembali jiwa heroisme "kampungan" saya tetsebut.

Lantas, apakah heroisme tersebut bisa disinkronkan dengan dunia karir akademik ?

Bagi saya, lebih dari cukup, bisa.  Sisi positifnya dipetik, sisi negatifnya dibuang tapi dipegang ekornya.  Ya, hitung-hitung premanisme dibutuhkan dan agar digunakan sebagai alat untuk membongkar kesewenang-wenangan kelompok tertentu yang terbukti buta-tuli mata dan telinga mereka. Mafia skripsi dan tesis dan tindakan "ketidakadilan" yang terkadang menyeruak di kampus Islami ini, menjadi contoh kemungkaran yang membutuhkan orang-orang rertentu bernyali dan memiliki komitmen nahi mungkar, bukan melulu amar makruf. 

Nahi mungkar ini, tentu saja memerlukan asupan nyali dan strategi yang tepat.  Terkadang memang "nahi mungkar" menjadi pilihan mendahului "amar makruf" bagi kalangan tertentu.

Inilah pilihan hidup saya. Latar belakang sosio-historis, sosio-kultural dan lingkungan hidupmenempa saya, membyat di mana saya tidak jarang kritis dan keras bahkan tidak beretika.  Ya, itulah cara yang wajib dilalui. Tidak ada pilihan kecuali keras dan frontal serta tak pandang bulu. 

Masih ingat jihad Wali Songo dan tokoh-tokoh pejuang nahi mungkar ?  Mereka tidak sedikit gugur demi menegakkan kebenaran dan Islam.  Mereka tidak sedikit disakiti secara moral dan dikucilkan, bahkan berujung pembunuhan.  Ini resiko dan pilihan hidup.  Salah-benarnya, etis tidaknya, bukan urusan orang perorang, tapi ini panggilan dakwah yang paling fundamental yang kebetilan beresiko riskan dan rawan. Boleh jadi dalam kasus-kasus tertentu, lebih dahsyat dari Pandemi Covid-19.

Berbeda dengan amar makruf, nahi mungkar sarat dengan tantangan, tekanan dan intrik politis curang dan bengis. Bahkan ancaman korban jiwa sekalipun dari kelimpok yang berhati anti kebenaran, meski dengan mulut yang hipokrit bak pejuang kebenaran.

Berbeda dengan nahi mungkar, yang penuh problem dan ancaman. Amar makruf, terkadang cukup  disampaikan secara melankolis, humoris- persuasif, bahkan kalau perlu agak "feminis".  Maafkan saya.[]

Ternate, 13/6/20

Komentar

  1. Pesabtren memang menjadi tempat pembelajaran yang masih no 1 dari dulu hingga skarang

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah senang membaca tulisan perjalan hidup bapak. Ada kata kata yang menarik dan juga sebenarnya menjadi sebuah teguran , yaitu menghidupkan atmosfer akademik . Semoga kampus kita cepat atau lambat bisa menunjukkan tajinya dan bisa bersaing dengan kampus kampus lain.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer