SUFISME YANG HILANG




Oleh :
Hamzah Giling

Masyarakat dunia dewasa ini tengah berada dalam sebuah era yang disebut dengan era "disrupsi".  Era baru ini, meniscayakan kehadiran teknologi digital yang mampu menyuguhkan  kemudahan akses, di hampir semua sektor kehidupan manusia, terutama  soal informasi dan telekomunikasi. 

Karenanya, masyarakat dunia kini berlomba-lomba menguasai teknologi canggih dengan segenap aplikasi pendukungnya. Dipastikan, siapapun yang mampu menguasainya, akan keluar menjadi bangsa yang terkemuka.  Bahkan tidak mustahil, menjadi bangsa pendikte bangsa-bangsa lain.  Ini adalah tantangan bagi dunia, termasuk Islam yang ajarannya populer dengan "shaalih likulli zamaan wa makaan" (cocok untuk semua era dan tempat).

Era disrupsi menggeser tren dunia nyata menjadi dunia maya.  Transformasi sosial, budaya dan ekonomi menjadi fenomena yang sulit dipetcaya, tapi nyata adanya. Bahkan aspek keagamaan tidak terkecuali turut menjadi terdampak.  Para pemuka agama dibuat sibuk dan dipaksa untuk membaca dan mereinterpretasi teks-tekas kitab kuning, bahkan kitab suci mereka.  Tradisi warisan umat Islam klasik yang suka cepat puas dan betah berlama-lama atas capaiannya, kini acapkali dibuat kaget oleh era yang semi gila ini.

Transformasi dunia digital, kini nyaris membuat semuanya berubah secara drastis.  Siapa pernah menyangka secepat itu ? semisal perpustakaan konvensional bergedung tinggi dan besar dengan jutaan eksamplar literatur, kini menjelma dalam satu genggam tangan manusia.  Bahkan dengan gadget segenggam tangan anak itu, memiliki kapasitas yang amat jauh lebih besar dari isi lemari-lemari perpustakaan dunia nyata.

Kapasitas yang luar biasa besar dan kecepatan akses super cepat, membuat masyarakat dunia semakin manja tetapi juga terkadang angkuh, bahkan lupa Tuhan.  Akses mudah dan cepat berbagai hajat hidup umat manusia, melalui teknologi komunikasi dan sosial media, tidak jarang membuat mereka meberhalakan teknologi tetsebut. Bahkan sikap tekno-sentris telah jauh merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan mereka.  Kini perangkat teknologi itu telah menjelma menjadi sesuatu yang paling akrab, melebihi kedekatan dengan keluarga sendiri dan mungkin Tuhan sekalipun.  Inilah ancaman paling berbahaya abad ini, bagi peradaban umat manusia.

Ternyata era yang oleh banyak kalangan mendeklarasikan sebagai era kebangkitan dan revolusi, menyimpan virus yang ganasnya tidak kalah dari Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) kelahiran Wuhan, Tiongkok, yang berdaya tular cepat dan mematikan.  Jika Covid-19 menyerang dan mematikan jiwa manusia secara biologis, teknologi digital sebagai anak kandung disrupsi, menyerang otak dan persepsi manusia secara teologis dan ideologis.  Secara teologis, manusia digiring bukannya lebih dekat kepada Tuhannya, malah bak dihipnotis, manusia dibuai secara perlahan tapi pasti, antipati dan merasa tidak butuh kepada Tuhan Penciptanya sendiri.  Manusia diracuni dan dilumpuhkan daya rasionalitasnya, sehingga menjelmalah manusia-manusia buzzer, bahkan penganti Tuhan.  Mereka lupa bahwa di balik kecanggihan teknologi digital, tersimpan kerapuhan dan kelemahan yang setiap saat bisa saja tersungkur sebelum hancur tanpa daya.  Terlalu banyak bukti kegagalan teknologi yang prrnah dialami bangsa-bangsa negara maju sekalipun. Demikian karena Tuhan membarikan pelajaran dan ibrah kepada mereka, bahwa sebesar bagaimanapun capaian manusia, tidak akan mungkin menggantikan ke-Maha Kuasaan Tuhan.  Dari sinilah dibutuhkan jiwa-jiwa yang berspiritualitas, agar mereka bisa memanfaatkan teknologi canggih tetsebut menjadi lebih produktif dan bermanfaat buat peradaban manusia.  Sayangnya dewasa ini, dan mungkin juga ke depan, terlalu susah untuk itu.

Dalam fungsinya sebagai 'khalifah', manusia sebenarnya harus memiliki kesadaran vertikal yang senantiasa bisa dijadikan sebagai self control dalam seluruh pergerakannya.  Itulah sebabnya, akal budi, hati nurani manusia menjadi amat penting, sebagai sisi esoterik yang bekerja secara spiritual transenden, mengorbit ke wilayah yang unempirik dalam rangka melebur diri (al-hulul), atau asyik-masyuk dengan Nur Sang Dicinta (al-Mahabbah).  Bahkan agar bisa bersanding wujud dengan Tuhan (wahdat al-wujud).  Capaian-capaian spritual (syathahat dan ahwaal) ini, sama sekali hampa teknologi canggih.  Justeru yang dibutuhkan hanyalah sepotong 'nafs' atau 'ruuh' yang bersifat 'Laahuut' setelah terlebih dahulu disucikan (tazkiyatun nafs) agar sedapat mungkin mampu mengangkasa dan hinggap dalam pangkuan Sang Ilahi.  Inilah puncak dan ekstase terdahsyat yang menjadi obsesi panjang para pencari Tuhan (saalikuun).  Itulah sebabnya, sekelompok hamba Tuhan tidak berambisi, bahkan tidak punya gairah dalam hal yang beraroma material, hiruk-pikuk duniyawiyah serta segala kelezatan duniawi (zuhhaad).  Semesta tujuan mereka, tunggal hanya kepada Tuhan, tidak kepada selannya.

Inilah dunia yang sulit ditemukan, bahkan hilang di saat mana masyarakat dunia sedang berlomba-lomba menunjukkan kesuksesan dan kemajuan dalam segala bidang, kecuali bidang spiritual.  Dunia kini sedang dilanda kemajuan raksasa nyaris di seluruh sendi kehidupan, tetapi gersang dan kering, bahkan hati mereka mengalami kematian, ya, kematian 'sufisme'.[]

Ternate, 11 Mei 2020

Komentar

Postingan Populer