B E R K A H
Hamzah
Dosen pengampu mata kuliah Ilmu Tasawuf, IAIN Ternate.
Kata "berkah" sudah menjadi populer. Nyaris setiap hari kata berkah, bisa kita jumpai dalam berbagai literasi, terutama ketika ada hajatan semisal pesta pernikahan, ulang tahun, wisuda, promosi jabatan dan lain-lain.
Ucapan yang jamak ditulis adalah "semoga berkah". Karena ini merupakan ucapan dan doa utama dalam setiap acara dan hajatan, maka tentu saja, berkah mengandung makna filosofis yang mendalam, atau sering disebut dengan "hikmah".
Dalam berbagai kitab leksikal Arab, kata berkah diartikan sebagai "bertambah dan berkembang atau bertumbuh".
Secara bahasa (Arab) sesuatu yang dianggap berkah, jika mengalami atau memiliki nilai tambah dan perkembangan.
Seseorang disebut berkah ilmunya, jika ilmu yang ia miliki diamalkan dan dibagi kepada orang lain, sehingga ilmu tersebut semakin meluas dan berkembang. Artinya dengan ilmu tersebut, bukan hanya pemiliknya yang menikmati dan mengambil manfaat, tetapi publik ikut mengambil manfaat dari ilmu itu. Bahkan ilmu itu akan menjadi lebih berkembang melalui kajian-kajian yang lebih komprehensif dan konsepsinya semakin dalam dan mantap. Pertambahan dan perkembangan ilmu tersebut, disebut berkah.
Maka secara Etimologis, dalam konteks contoh di atas, ilmu dapat disebut berkah, jika memiliki kontribusi aksiologis dan nyata bagi masyarakat. Ilmu memiliki nilai manfaat bagi masyarakat. Itulah sebabnya, pemilik ilmu atau ilmuan ini digadang-gadang oleh Rasulullah saw. sebagai orang yang terbaik. Mengapa ? Karena dia telah memenuhi syarat manusia terbaik, yaitu paling bermanfaat bagi manusia (خير الناس انفعهم للناس).
Dalam terminologi tasawuf, berkah diartikan oleh Imam Al-Ghazali ) sebagai "bertambahnya kebaikan".
Secara sufistik, bertambahnya kebaikan, dipahami sebagai semakin nembaiknya kedekatan seorang salik dengan Sang Khalik. Terjadi fluktuasi secara signifikan seorang salik dalam menelusuri lorong demi lorong perjalanannya kepada Ilahi. Berkah dalam konsep tasawuf adalah semakin terbukanya potensi berdekat-dekatan seorang hamba dengan Tuhannya menjadi semakin lebih ekstasi. Ahwal dan Syathahatnya semakin membuncah, sehingga wujud kasyaf dan ladunny semakin benar-benar tersingkap dan menganga. Berkah sufistik di sini tetap saja dimaknai sebagai bertambahnya kualitas hubungan dan komunikasi spiritual yang menimbulkan kesyahduan dan asyik-masyuk. Atau terbitnya rasa rindu dan cinta semakin merasuk ke tebing batiniah paling mendalam.
Meski begitu, kita tidak bisa menghiraukan, berkah secara umum. Pertambahan kebaikan, dimaksudkan sebagai upaya secara terus-menerus melakukan ketaatan kepada Allah swt. sehingga kebaikan menjadi melimpah dan manfaatnya semakin dirasakan oleh orang banyak. Dalam konteks ini, ada gerakan sosial amar ma'ruf secara masif dan kontinu.
Buah dari gerakan sosial ini adalah terciptanya kebaikan publik atau maslahat secara luas berupa karunia Tuhan. Itulah sebenarnya esensi berkah, sehingga dalam kamus KBBI disebutkan bahwa berkah adalah "karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia".
Kata "semoga berkah" dalam seluruh ragam upacara dan hajatan yang disampaikan kepada kawan, sahabat, kolega, sesungguhnya munajat kita agar apa yang sedang diraih seseorang, mampu mendatangkan "kebaikan" dalam kehidupan. Pertambahan dan perkembangan kebaikan dari hari ke hari, mendatangkan manfaat bagi semua, inilah yang disebut dengan berkah.
Saya menutup tulisan saya ini, dengan mengutip secara penuh sebuah kisah antara syaikh Ibrahim bin Adham dengan seorang Zindiq, tentang berkah berikut ini.
Suatu ketika terjadi dialog dengan salah seorang kafir zindiq yang tidak percaya akan eksistensi berkah.
Zindiq itu berkelakar, ” Yang namanya berkah itu jelas tidak ada (hanya mitos)”.
Mendengar itu, Syaikh Ibrahim lantas menanggapi pernyataannya:
Bin Adham: Pernahkah kamu melihat anjing dan kambing?
Zindiq: Ia, tentu…
Bin Adham : Mana dari keduanya yang lebih banyak berreproduksi dalam melahirkan anak-anaknya?
Zindiq : Pastinya anjing, anjing bisa melahirkan sampai 7 anak anjing sekaligus. Sedangkan kambing hanya mampu melahirkan setidaknya hanya 3 anak kambing saja.
Bin Adham : Coba perhatikan lagi di sekelilingmu, manakah yang lebih banyak populasinya antara anjing dan kambing?
Zindiq : Aku lihat kambing lebih mendominasi, jumlahnya lebih banyak dibandingkan anjing.
Bin Adham : Bukankah kambing itu sering disembelih? Entah itu untuk keperluan hidangan jamuan tamu, prosesi kurban Idul Adha, acara aqiqah, atau momen istimewa dan hajat lainnya? Tapi ajaibnya spesies kambing tidak kunjung punah dan bahkan jumlahnya justru nampak melebihi anjing.
Zindiq : Iya, iya, betul sekali
Bin Adham :
Begitulah gambaran berkah
Zindiq : Jika tamsilnya begitu, lalu kenapa justru kambing yang mendapat berkah, bukan anjing?
Syaikh Ibrahim Bin Adham kemudian menutup dialog itu dengan jawabannya yang cukup menyentil:
لأن الأغنام تنوم أول الليل و تصحى قبل الفجر فتدرك وقت الرحمة فتنزل عليها البركة. وأما الكلاب تنبح طول الليل فإذا دَنا وقت الفجر هجست ونامت ويفوت عليها وقت الرحمة فتنزع منها البركة
Karena kambing lebih memilih tidur di awal petang tapi, ia selalu bangun sebelum fajar, di saat itulah ia mendapati waktu yang penuh dengan rahmat, hingga akhirnya turunlah berkah kepadanya. Beda halnya dengan anjing, ia doyan menggonggong sepanjang malam, tetapi di saat menjelang fajar ia malah pergi tidur sampai melewatkan saat-saat turunnya kucuran rahmat dan ia pun tidak kebagian berkah.[]
Ternate, 4 Juli 2020


Komentar
Posting Komentar