USTAD DAN PERKUTUT
USTAD DAN PERKUTUT
Oleh: Hamzah
Entah ini kisah nyata atau fiksi. Namun beredar luas dan lama di daerah tempat tinggal saya di ksmpung. Namun cukup baik dijadikan peringatan dan pelajaran berharga.
Suatu ketika di hari Jumat. Berkhutbah seorang khatib dengan penuh semangat. Sang khatib mampu mengkhusyukkan jamaahnya. Jamaahpun terdiam menyimak.
Tema khutbah "Dahsyatnya Bersedekah".
Nada suara agak berapi-api dari sang khatib, menyeru jamaah untuk bersedekah. Ayat dan hadis dikutip lancar. Sang khatib menegaskan tanpa ragu-ragu bahwa pahala terbesar yang akan diperoleh dari sedekah, yaitu menyedekahkan barang yang paling berharga dan disayangi.
"Bersedekahlah wahai jamaah sekalian. Pilih harta atau barang milik kesukaan yang paling berharga dan paling disayangi". Demikian seruan khatib nyaris disampaikan berulang kali.
Sontak seluruh jamaah terkesima. Termasuk salah seorang jamaah yang benar-benar khusyuk mendengar seruan khatib. Ajakan bersedekah seakan merasuk jauh dalam sukmanya, yaitu puteranya sendiri sang khatib.
Acara Jumatan lancar sukses. Sang khatib mendapat pujian dan jabat tangan dari para jamaah. Pertanda Ustad hebat dan alim.
Berselang beberapa minggu berlalu. Seruan khatib kala itu, selalu terngiang di telinga anak yang tak lain adalah anak sang ustad.
Seruan ayahnya agar menyedekahkan barang yang paling berharga dan disayangi, kini semakin kuat. Keinginannya semakin membuncah.
Benar saja, pada saat yang tepat, seruan ayahnya dilaksanakan. Burung perkututlah barang kesukaan ayahnya yang dipilih untuk disedekahkan. Perkutut berikut sangkar berharga mahal dan perkutut terfavorit di kampung. Selain suaranya nyaring merdu, juga waktu berkicaunya teratur. Tiada perlombaan tanpa juara.
Kini perkutut favorit itu, pindah tangan. Disedekahkan kepada salah seorang penggemar perkutut ayahnya yang sering mangkal, hanya untuk menikmati merdu kicauan perkutut yang berharga puluhan juta itu.
Saat sarapan pagi bersama, sang ayah heran, kok suara perkutut yang biasanya merdu dan mendayu, tidak kedengaran.
Sang ayah penasaran sedikit was-was. Lantas keluar ingin mencari tahu. Alangkah kagetnya beliau tidak lagi melihat sangkar perkutut di tempatnya.
Saat beliau kembali ke meja makan. Anaknya menyambut dengan kalimat "alhamdulillah ayah, saya sudah melaksanakan seruan dan ajakan ayah saat khutbah beberapa minggu lalu. Saya pilih burung perkutut kesayangan ayah yang saya sedekahkan"
Sang ayah menjawab dengan nada penuh emosi "mengapa perkutut saya yang kamu pilih. Masih banyak barang lain. Bukankah kamu tahu, perkutut itu burung paling saya sayangi".
"Bukannya kata ayah saat khutbah, ayah serukan menyedekahkan barang yang paling disayangi", jawab sang anak.
Tanpa ba bi bu dan dengan marah, sang ayah setengah berteriak menjawab "seruan saya itu hanya untuk jamaah, bukan untuk kita !!!
Sang anak tertunduk karena merasa bersalah. Meski hati nuraninya merasa sudah benar. Melaksanakan seruah khatib.
"Maafkan saya ayah, telah melakukan kesalahan. Insya Allah lain kali, saya akan jumatan di masjid, di mana ayah tidak berkhutbah di dalamnya".
Sang ayah meninggalkan meja makan, tanpa permisi dan kelihatan agak cemberut.
***
Hikmah apa yang bisa dipetik dari kisah ini ?
✅ Satukan kata dengan perbuatan;
✅ Lakukan terlebih dahulu, sebelum menyeru orang lain;
✅ Tidak perlu terlalu banyak menggurui orang lain. Buat contoh yang baik, jauh lebih baik dan diharapkan;
✅ Terkadang orang lain, bahkan anak, lebih arif dari orang tua.
Wallahu a'lam
Ternate, 15/8/2020


Komentar
Posting Komentar