TRADISI BLOKIR JALAN 
Hamzah

Saya pernah menanyakan ke sejumlah teman akrab, asli orang Mauku Utara perihal tradisi memblokir jalan saat melaksanakan hajatan keluarga.  Saya belum memperoleh jawaban jelas, terutama latar belakang historis dan mengapa perilaku tersebut mentradisi secara turun-temurun di masyarakat khususnya di kota Ternate dan Maluku Utara umumnya.

Bahkan suatu ketika di akhir 2018 saya mencoba mengajak teman sekantor untuk berdiskusi kecil-kecilan agar bisa tergambar seperti apa asal-muasal, sampai kepada efeknya terhadap publik pengguna jalan dan terpenting, upaya penemuan solusi.  Tapi ajakan saya jauh panggang dari api, gagal.  Meski gagal ajakan, tapi niat agar suatu saat saya bisa memperoleh teman berdiskusi tetap tidak sirna.  Menulis artikel kecil ini meupakan wujud harapan saya kiranya ada teman yang bisa "melayani" hasrat keingintahuan saya.

Sejak 1999 pertama kali menginjakkan kaki di kota kecil eksotik dan negeri para sultan ini (jaziirat al-muluuk), saya merasa bangga dan banyak belajar hal-hal baru yang menjadi khazanah di negeri rempah ini.  

Tradisi beraneka ragam, mulai dari cara bertutur sampai kepada kuliner yang kaya, baik rasa maupun jenisnya.  Jenis musik dan tarian  endemik dan heroik.  Tidak jarang ketika telinga saya mendengar alunan irisan gitar ala Togal, tubuh saya seketika bergerak bergoyang, meski saya tidak memiliki kemampuan me-ronggeng.    

Hal serupa terjadi saat mendengar iringan musik pada tarian Cakalele, seakan menggelorakan semangat perang menghadapi bangsa kolonial Portugis.  Semuanya terinternalisasi jauh merasuk ke dalam sukma saya yang sudah menjadi bagian dari penduduk negeri Pala dan Cengkeh ini.

Falsafah "di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung", kiranya menjadi modal penting buat saya mengabdi. Meski saya mengakui, terkadang saya gagal paham dan sadar, beradaptasi dan berakulturasi dengan beragam kultur lokal. 

Prinsip yang kerap oleh orang-orang (maaf untuk menyebut) Bugis sangat dijunjung tinggi, nyatanya tidak di sini.  Demikian sebaliknya. 
 Perbedaan-perbedaan inilah sesungguhnya patut saya syukuri, sebab ini merupakan kekayaan tak ternilai harganya buat saya dan keluarga.

Pepatah, "Lain lubuk lain ikan, lain padang lain belalang", semakin memperkuat keyakinan saya bahwa multikultur itu memang kreasi Tuhan yang patut disyukuri, sebab menjadi pengikat dan pengaya sekaligus pemersatu sosial kemanusiaan.

Di antara kekayaan tradisi masyarakat Maluku Utara, terdapat sebuah tradisi yang sampai saat ini masih bertahan di tengah arus moderenisasi dan globalisasi. 
Tradisi itu bernama "Pele Jalan" yang secara leterlek bermakna memalang, memblokir, menutup akses jalan, sehingga publik pengguna jalan tidak bisa melintas.  

Tradisi ini biasanya dilakukan saat sebuah keluarga melaksanakan acara hajatan semisal Tahlilan pasca kematian anggota keluarga, pesta pernikahan, walimatus safar calon haji dan acara lain yang membutuhkan ruangan berkapasitas besar.  Dugaan saya, dahulu kala saat kota Ternate belum padat seperti saat ini, baik oleh penduduk maupun kendaraan, dipastikan tidak problematik.  Tetapi untuk saat ini, jumlah penduduk dan kendaraan yang semakin hari semakin bertambah pesat, sementara sarana jalan publik tetap tidak mengalami perkembangan. 

Hal tersebut tentu menimbulkan masalah serius, terutama jika jalan yang sejatinya diperuntukkan buat publik, beralih fungsi menjadi ruang untuk hajatan. 

Problem sosial muncul seketika, saat  pengguna jalan merasa terganggu oleh tindakan pemblokiran jalan.

Suatu ketika Jumat, Juli 2017, saya kebetulan menjadi khatib Jumat di salah satu masjid di kota Ternate.  Seperti biasanya saya menggunakan mobil sekira 30 menit sebelum waktu Jumat tiba.  Saat saya sedang dalam perjalanan, saya harus berhenti oleh pemblokiran jalan besar dan memilih membelokkan arah mobil mencari jalan yang lengang, tetapi apa yang terjadi, lagi-lagi saya menemukan hal yang sama, Pele jalan.  Tidak ada cara lain kecuali saya mencari jalan lain untuk kedua kalinya, namun sial bagi saya sebab jalan di depan mata, diblokir menggunakan balok kayu yang dialasi kursi kayu.  

Waktu Jumat semakin sempit sementara kendaraan saya susah menemukan jalan yang tak ber-Pele.

Kasus di atas hanya menjadi contoh kecil bahwa dalam sebuah tradisi seperti Pele jalan tentu saja mengandung tujuan dan kemaslahatan khususnya untuk kalangan keluarga sang pelaksana hajat.  Tetapi dalam tradisi tersebut juga mengandung mudarat sosial yang jauh lebih besar akibat terganggunya masyarakat banyak yang hendak mengakses jalan.  Itulah sebabnya Pemerintah Kota Ternate mengeluarkan Peraturan Daerah Kota Ternate Nomor 4 Tahun 2014 Tentang Ketertiban Umum, terutama Bab II Pasal 2 yang mengatur tentang penutupan jalan.  

Namun sepertinya peraturan ini tinggal peraturan, sebab masyarakat memiliki kehendak lain yang diduga keras terjadinya pelanggaran terhadap Perda tersebut.

Saya terkadang bergumam sendiri sambil bertanya: mengapa belum ada akademisi, tokoh adat dan masyarakat, duduk bersama mendiskusikan problem ini ?  Mengapa belum ada gagasan agar ada upaya baik pemerintah maupun swasta, membangun  semacam gedung Serbaguna yang representatif yang memiliki kapasitas besar dan fasilitas lengkap, selain itu harga sewa terjangkau oleh masyarakat.  Pembangunan gedung dimaksud ada baiknya dialokasikan ke berbagai tempat sesuai kebutuhan masyarakat, sehingga tidak ada lagi daerah yang berpotensi me-mele jalan.

Saya sejak lama yakin bahwa masyarakat Maluku Utara memiliki ciri dan nuansa ke-Islaman yang kental dan historis.  Lembaga adat kesultanan Moloku Kie Raha menjadi bukti  akan mantapnya religiusitas masyarakatnya. 

Slogan "Adat bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah" semakin menanbah keyakinan saya bahwa problem sosial Pele  Jalan bisa terselesaikan dengan baik, sebab tentu saja semuanya mampu didiskusikan secara terbuka dan demokratis.  Terpenting adalah penyelesaian masalah tersebut, tentu saja selalu memilih cara dan jalan yang bersesuaian dengan Syarak alias ajaran atau syariat Islam, sebagaimana isi slogan di atas. 

Karena itu, dengan penuh ta'zhim saya mengajak kepada teman-teman akademisi, tokoh adat dan agama serta masyarakat.  Mari Torang duduk bersama berbicara Pele Jalan ! []

Komentar

Postingan Populer