KONSEP PENDIDIKAN ANAK LUQMAN AL-HAKIM DALAM AL-QUR'AN




Hamzah

Siapa pernah menyangka jika Pandemi Covid-19 merubah segalanya.  Khusus untuk kaum muslim, momen Ramadhan, pelaksanaan ibadah tidak aeperti lazimnya dilaksanakan secara berjamaah di masjid.  Kali ini, umat Islam harus banyak bersabar dan tinggal di rumah, termasuk seluruh rangkaian shalat berjamaah seperti  shalat Jumat, Tarawih dan shalat Idul Fitri, dilaksanakan di rumah.

Saya termasuk dari sekian banyak yang melaksanakan shalat di rumah saja.  Selain karena mengikuti fatwa jumhur Ulama, juga saya menaati himbauan pemerintah untuk tetap di rumah dan selalu menjaga kesehatan bersama keluarga.  Keputusan saya bulat bersama keluargaku untuk shalat Idul Fitri di rumah.

Beberapa hari menjelang 1 Syawal 1441 H., saya sudah bertahu isteri dan ke empat anakku bahwa kita shalat Idul Fitri di rumah.  Tidak ada kendala sedikitpun dan benar-benar terlaksana dengan penuh khidmat.

Pada saatnya tiba, pagi-pagi buta, anak-anak sudah siap siaga menunggu waktu yang dinanti-nanti setahun sekali itu.  Sebelum shalat, saya memimpin takbiran, dikuti oleh jamaah kecilku.  Ruang-ruang rumah kami hiruk oleh suara lantunan takbir, tahmid dan tahlil.  Momen ini merupakan momen yang teramat syahdu, bahkan sesekali saya membasuh air mataku yang jatuh dengan sorban.  Rasa haru bercampur bahagia, lebur menjadi satu.

Air mata haru dan sedih, semakin mengalir deras saat saya teringat kedua orang tuaku yang sejak lama dipanggil ke hadirat Sang Pencipta.  Lantunan takbir seketika berhenti, tidak sanggup melafalkannya, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang teramat mendalam.  Saya berusaha keras berhenti dari suasana yang penuh emosi ini, khawatir anak-anakku ikut larut dalam kesedihanku.

Setelah saya memberikan penjelasan singkat tentang niat shalat, tata cara pelaksanaan shalat dan khutbah, saya lalu melantunkan kalimat "الصلاة جامعة رحمكم الله الصلاة لا اله الا الله"
Serentak kami semua sedang berdiri memulai shalat dua rakaat.  Alhamdu lillah shalat sunnah Idul Fitri berhasil dengan khidmat kami   laksnakan.  Kini saatntanya saya berdiri untuk menyampaikan khutbah yang seumur hidupku baru kali ini kualami  Tema khutbah kali ini sengaja saya pilih tentang konsep pendidikan anak yang dikemukakan oleh Luqman al-Hakim, yang diabadikan Allah dalam al-Qur'an, Surah Luqman.

Inilah momen yang paling tepat bagi saya untuk mempermantap pemahaman keempat anak saya.  Dengan harapan mereka mampu menjadikan sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan mereka kelak.  Menurutku ini sangat penting.  Ini adalah pendidikan sangat mendasar dan penting artinya bagi anak-anakku.  Saya berharap dengan konsep pendidikan ini, kelak mereka mampu bergaul dan berikehidupan yang dilandaskan kepada nilai-nilai ke-Tuhanan, berbakti kepada kedua orang tua dan sosial kemanusiaan.

Dalam al-Qur'an disebutkan bahwa "ingatlah ketika Luqman  berkata kepada anaknya, wahsi anakku, jangan sama sekali pernah menyekutukan Allah (لا تشرك با الله), karena sesungguhnya syirik itu merupakan kezhalimam tebesar".

Pendidikan pertama yang disampaikan Luqman adalah pendidikan Tauhid.  Inilah konsep perndidikan paling fundamental dalam Islam.  Pendidikan ini bertumpu pada keyakinan bahwa hanya Allah lah satu-satunya yang berkuasa atas segalanya (tauhid sifatitah), hanya Allah lah yang mengatur alam semesta ini (tauhid rububiyah) dan hanya Allah lah satu-satunya yang memiliki Zat unik, Esa yang eksistensinya meliputi seluruh makhluk tanpa kecuali (tauhid Zatiyah).

Pendidikan Tauhid atau Teologi ini, merupakan fondasi pendidikan apapun yang akan diberikan kepada anak-anak kita.  Inilah doktrin dan benteng paling kokoh yang harus ditanamkan ke dalam jiwa anak-anak, sebelum mereka terkontaminasi dengan budaya-budaya asing, tradisi global sekuler yang akan merusak akhlak anak-anak.

Konsep kedua, adalah pendidikan Akhlak khusus kepada kedua orang tua (birr al-waalidayn).  Luqman selanjutnya berwasiat kepada anaknya dan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tua.  Luqman menyinggung bagaimana seorang bunda yang melahirkan dalam keadaan lemah di atas lemah, derita di atas derita.  Belum pulih dari kelemahannya, sang bunda berikut menyusui anaknya selama dua tahun lamanya.  

Karena itu, anak-anak diwajibkan senantiasa bersyukur kepada Allah dan kepada kedua orang tua. Seorang anak wajib bergaul kepada kedua orang tuanya dengan sebaik-baiknya (وصاحبهما فى الدنيا معروفا).  Inilah pendidikan Akhlak yang wajib ditanamkan ke dalam jiwa anak-anak dengan tujuan, agar mereka tumbuh dan kelak menjadi orang yang pintar bersyukur.  Rasa syukur yang tertanam kuat dalam jiwa mereka, menjadi bekal menghargai dan membalas budi kepada Allah dan juga kepada kedua orang tua dan sesama manusia.

Konsep ketiga adalah pendidikan tentang tanggung jawab.  Ditegaskan oleh Luqman, bahwa sekecil apapun petbuatan yang dilakukan, Allah pasti mengetahui-Nya.  

Inti dari prndidikan ini adalah menanamkan ke dalam jiwa anak mengenai sikap bertanggung jawab atas segenap apapun yang dilakukan.  Harus ada kesadaran spiritual tentang adanya balasan setiap perbuatan.  Hal ini karena Allah Maha Halus dan Maha Mengetahui.

Konsep keempat adalah pendidikan mendirikan shalat, amar ma'ruf nahi mungkar serta kesabaran.  Shalat dan menyeru kepada kebaikan serta melarang perbuatan mungkar, semuanya merupakan perbuatan yang berat, sehingga konsep kesabaran menjadi turut serta dibagian akhir diutarakan  Artinya sang anak dituntut memiliki kesabaran dalam menjalankan perintah shalat, amar ma'uf nahi mungkar.  Selanjutnya dalam konsep ini, ditutup dengan pendidikan Akhlak agar tidak memiliki sifat sombong dan selalu berperangai lembut penuh sopan santun.  Sikap dan rasa sosial kepada sesama, sangat ditekankan.  Demikian juga sikap lembut dan sopan santun kepada sesama, sangat ditekankan kepada anak-anak.

Konsep pendidikan terakhir ini, pada dasarnya bertumpu pada penanaman nilai-nilai  tanggung jawab seorang seorang anak.  Bahwa setiap orang sebagai hamba memiliki tujuan utama yaitu beribadah kepada Allah.  Peran seorang manusia sebagai khalifah, mengemban tugas berat selain tanggung jawab ke-Tuhanan, jug tanggung jawab kemanusiaan.  Tugas ini sangat berat, sehingga seseorang dituntut memiliki kesabaran yang cukup.   Demikian juga seseorang harus menghindari sikap sombong agar tidak bertindak semena-mena dan melampaui batas.  Di balik itu, seseorang harus bersikap lembut dan santun.  Ini dimaksudkan agar hubungan sosial kemanusiaan berjalan dengan baik dan penuh dengan kehangatan, karena pelaksanaannya dilandasi dengan sikap saling menghormati satu sama lain.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa konsep pendidikan Luqman yang diabadikan Allah dalam al-Qur'an, intinya adalah pendidikan Tauhid dan pendidikan Akhlak.  Ini berarti bahwa seorang anak agar sedini mungkin ditanamkan pendidikan dasar tentang hubungan anak dengan Tuhannya dsn pendidikan anak yang berhubungan dengan sesama.  Pendidikan akhlak berupa hubungan sosial, diawali terlebih dahulu dengan berbuat baik kepada kedua orang tua sebelum berakhlak kepada sesama ciptaan Allah.  Pendidikan Akhlak, baik kepada Allah maupun kepada sesama, tetutama orang tua, sangat penting dan utama, agar anak-anak sedini mungkin memiliki pamahaman yang mantap dan menjadi bekal dalam hidup selanjutnya kelak.

Demikian materi khutbah yang saya sampaikan di depan anak-anak dan isteri saya, di rumah, di hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 H. dalam suasana Pandemi Covid-19 ini.  Usai menutup khutbah, says bersama keluarga larut dalam suasana haru saling memeluk, mencium dan saling memaafkan.  Subhanallah, terima kasih ya Allah, Engkau telah mempersatukan kami utuh dalam hari raya fitri ini.[]

Ternate, 26 Mei 2020

Komentar

Postingan Populer