PENDDIKAN AKHLAK TASAWUF
Oleh: Hamzah
Selain akidah dan syariah, akhlak termasuk salah satu intisari ajaran Islam yang lebih bersifat implementatif ('amaliy). Akhlak merupakan buah dari proses 'ta'diib' atau 'tahdziib' (character building). Rasulullah saw. menyebutkan bahwa "Tuhan mendidikku (addabaniy Rabbiy), maka itulah pendidikan terbaik untukku". Karena itu, akhlak menjadi buah dari proses pendidikan, baik yang bersifat lahir eksoterik, maupun yang bersifat batin esoterik. Sejak awal, Rasulullah mendeklarasikan bahwa misi pengutusan beliau menjadi rasul, tidak lain kecuali untuk membangun dan mempermantap akhlak mulia umatnya (liutammima makaarim al-akhlaq).
Urgensi pendidikan akhlak mulia dalam Islam, tidak tanggung-tanggung, Rasululah sendiri yang menjadi suri tauladan (uswatun hasanah), sebsb beliau selain memang manusia 'terpelihara' (ma'shuum), beliau juga sebagai manusia 'paripurna (al-insaan al-kaamil).
Sebagai manusia paripurna, tentu saja karena beliau menjadi representasi ke-Ilahi-an, selain itu beliau juga menjadi citra al-Quran (khuluquhu al-Qur'an), demikian kata sayyidatinaa Aisyah ra.
Rasulullah mengawali pembangunan akhlak umatnya dengan sebuah metode sederhana, yang belakangan oleh ahli pendidikan dunia menyebutnya sebagai teori konvergensi, sebuah konsep pendidikan yang meniscayakan peran penting kedua orang tua dan masyarakat, juga lingkungan rumah tangga. Karenanya, Rasulullah mengilustrasikan bahwa setiap bayi yang lahir, statusnya dalam keadaan 'fitrah'. Dalam terminologi Islam, fitrah dimaknai sebagai potensi ruhani yang suci dan bersifat ke-Tuhan-an. Artinya seorang bayi atau anak, segera sebelum lahir, akan mengalami apa yang disebut dengan transaksi teologis. Dengan begitu sang anak dianugerahi potensi keimanan, setelah ia mengakui Allah sebagai Tuhannya (balaa syahidnaa). Inilah anugerah terbesar dan paling fundamental yang dimiliki manusia, sehingga dalam kondisi-kondisi tertentu, manusia (siapapun) hakikatnya selalu mencari atau rindu ingin kembali kepada Tuhannya.
Potensi atau fitrah yang dimiliki anak, harus dibimbing dan diarahkan. Karena itu, Rasulullah meng-adress kedua orang tualah yang menjadi pendidik sekaligus penentu seperti model bagaimana yang diinginkan terhadap anaknya ?
Berbeda dengan pengusung teori 'tabularasa' yang menggambarkan bayi yang baru lahir, laksana kertas putih polos. Teoris ini menganggap bahwa seorang bayi yang lahir, tidak memiliki potensi apapun, termasuk keimanan. Namun berbeda dalam Islam yang berpandangan bahwa sejak dalam rahim, seorang bayi telah diilhamkan potensi teologis (al-quwwah al-Ilaahiyah). Dari sinilah kelihatan pentingnya peran kedua orang tua dalam mengarahkan, membimbing sekaligus membangun akhlak anak-anaknya sebagaimana tuntunan Islam.
Di era Millenial ini, beban pendidik semakin berat dan kompleks. Ditambah dengan semakin ruwetnya beragam problem yang dihadapi, menjadikan pendidikan akhlak semakin berat pula. Bahkan fenomena dekadensi moralitas generasi millenial, kini menjadi ancaman serius bagi peradaban umat manusia.
Gempuran budaya asing, gaya hidup dan tren global, kini menjadi kiblat sebagian generasi muda dewasa ini. Kontribusi teknologi digital, penggunaan gadget yang secara tanpa batas ruang dan waktu, akses berbagai macam informasi dan konten sosial media serta transformasi gaya dan budaya masyarakat, disinyalir menjadi biang atas terjadinya dekadensi moralitas dan sikap mereka terhadap kehidupan religius yang semakin rendah. Bahkan tidak mustahil, jika para orang tua, guru dan masyarakat, gagal mengakselerasi kecepatan perubahan sosio-kultural dan pola hidip, akibat booming media sosial, maka dunia akan ditimpa oleh sebuah musibah yang disebut sebagai "kehancuran peradaban".
Musibah global ini, ditandai dengan merebaknya capaian ekonomi dan teknologi segala sektor yang luar bisa. Negara-negara maju memiliki kekuatan ekonomi, bisnis dan industri yang melampaui rencana mereka. Di bidang teknologi apalagi, mereka menjadi raja, terutama teknologi informasi dan telekomunikasi. Di bidang militer, mereka memproduksi alutista yang sedemikian canggih dan efisien. Namun penguasaan mereka, tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan dan ketenangan jiwa mereka. Justeru mereka mengalami kegalauan dan kecemasan yang luar biasa. Jiwa mereka kering dan gersang di tengah-tengah lumbung ekonomi dan teknologi yang mereka ciptakan sendiri. Dari sini, kelihatan pentingnya kehadiran sekolah spiritual bagi mereka. Pendidikan sufistik ternyata merupakan sesuatu yang pasti dan mendesak.
Lantas bagaimana peran Tasawuf ?
Selain orang tua di rumah, peran pendidik di lingkungan sekolah, kampus, dan lingkungan masyarakat, tidak lagi hanya penting, tetapi juga 'wajib' hukumnya membantu peserta didik mengembangkan potensi yang dimiliki. Mendifik nereka dengan akhlak yang mulia serta membiasakan nereka hidup secara sederhana dan selalu bersyukur. Pendudikan ruhani ini, sebenarnya bukan pendidikan gaya baru, akan tetapi dapat disebut sebagsi pendidikan yang sejak semula telah berhasil dipraktekkan (sunnah) oleh Baginda Rasulullah saw. Hanya saja memang perlu ada modifikasi tertentu mengikuti tren dan karakteristik dunia millenial dewasa ini.
Rasulullah sejak awal memeraktekkan hidup sederhana dan bersahaya, hidup secara asketis, yakni menjauhi hal yang bersifat mewah dan duniawi. Sifat ini penting digalakkan secara massif kepada mahasiswa, agar mereka hidup sederhana dan menghindari hidup secara hedonis. Mereka digerakkan untuk hidup secara lebih agamais dan selalu mengisi jiwanya dengan kehidupan spiritual yang lebih sufistik.
Kelihatannya agak sulit, namun
jika kita memiliki kemauan keras dan komitmen untuk membangun akhlak mahasiswa sekaligus peradaban umat manusia, maka tidak ada pilihan lain kecuali membudayakan hidup (suluuk) secara asketis, dalam arti mengontrol seluruh hidup duniawiyah dan menjadikan semuanya sebagai instrumen, bukan tujuan hidup. Harta dan seluruh falisitas duniawi, seyogiyanya tidak menjadi tujuan hidup. Sebab ia akan menjsdi penghalang seseorang untuk melakukan pendekatan (taqarub) kepada Allah. Dalam dunia Tasawuf, puncak kebahagiaan seorang sufi, jika dapat menyingkap hijab dan mampu melihat secara langsung, Nur Sang Pencipta.
Wallaahu a'lam.



Komentar
Posting Komentar