BAITUL HIKMAH
BAITUL HIKMAH
Oleh :Hamzah
Dalam sejarah, umat Islam pernah mengalami puncak keemasan peradaban.
Saat itu, Barat atau Eropa sedang tenggelam dalam konflik dan kegelapan yang berkepanjangan.
Peradaban Islam mencapai puncaknya pada abad ke-8 Masehi. Pada masa dinasti Abbasiyah. Abad itu, Islam menjadi mercusuar dan kiblat bagi peradaban belahan dunia manapun.
Kemajuan peradaban Islam, bukan karena keluasan wilayah kerajaannya yang mencapai dua pertiga dunia.
Kemajuan peradaban Islam kala itu, karena penguasaan ilmu pengetahuan yang tiada taranya di dunia msnapun.
Pada masa inilah, lahirnya ilmuan-ilmuan muslim dari berbagai bidang.
Bidang-bidang seperti Ilmu agama, kesenian, filsafat, hukum, sains, sosiologi, industri, literatur, navigasi dan teknik, berkembang sangat pesat.
Pada masa inilah lahir sebuah lembaga ilmu pengetahuan yang ditengarai termodern pertama di dunia. Menjadi pusat kajian dan pengembangan ilmu pengetahuan yaitu "Baitul Hikmah".
Baitul Hikmah didirikan oleh Harun al-Rasyid. Seorang sultan atau khalifah dinasti Bani Abbasiyah pada tahun 813 M. di kota Bagdad, Irak.
Baitul Hikmah, oleh sejarahwan menyebutnya, tidak hanya sebagai perpustakan termegah, tapi juga sebagai akademi peradaban dunia saat itu.
Ibnu Abi Ushaibiah, dalam kitabnya "'Uyuun al-Anbaa' fii Thabaqaat al-Athibbaa'" , menulis bahwa
Baitul Hikmah, menjadi pusat kajian paling penting dan terbesar bagi kemajuan peradaban dunia.
Kota Bagdad, kala itu, menjadi pusat kawasan pengembangan ilmu pengetahuan paling maju di dunia. Bagdad menjadi kota metropoltan dunia abad itu.
"Baitul Hikmah dan Konteks Kekinian"
Kemajuan peradaban Islam masa lalu yang ditandai dengan didirikannya Baitul Hikmah, merupakan pelajaran berharga bagi umat Islam dewasa ini.
Lahirnya banyak ilmuan muslim pada abad ke-8, juga menjadi catatan penting, bahwa kemajuan tersebut, karena penguasaan ilmu pengetahuan.
Para ilmuan giat melakukan penelitian di berbagai bidang ilmu. Sehingga lahir tokoh-tokoh tetkemuka dalam bidang ilmu pengetahuan seperti matematika, filsafat, astronomi, kedokteran, fisika bahkan juga metafisika.
Dalam bidang ilmu non-eksakta atau naqli, juga berkembang pesat, sehingga melahirkan para pakar dalam
bidang ilmu, seperti Tafsir, Teologi, Hadits, Fikih, Ushul Fikih.
Tokoh-tokoh besar dan tetkemuka dalam sejarah ilmu pengetahuan, lahir seperti Al-Kindi, Al-Khwarizmi, Muhammad Jakfar bin Musa, Ahmad bin Musa, Abu Tammam, Al-Jahiz, Ibnu Malik At-Thai, Abul Faraj, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Biruni, Ibnu Misykawaih, hingga sejarahwan besar muslim Ibnu Khaldun.
Untuk mengembaliksn kejayaan peradaban Islam. Saat ini umat Islam perlu membangun pusat-pusat kajian berbagai bidang ilmu yang relevan.
Pusat kajian ini, akan menjadi tempat pertemuan para ilmuan Barat dan Timur, untuk melakukan kajian dan diskusi berbagai bidang ilmu, isu-isu yang relevan dengan kemajuan peradaban umat Islam.
Pusat kajian ini juga bisa menjadi pusat laboratorium dan penerjemahan buku.
Hal yang tak kalah penting, adalah gairah melakukan penelitian berbagai bidang ilmu, harus digalakkan secara terus menerus.
Tradisi meneliti, menerjrmah dan melakukan kajian mendalam oleh para ilmuan muslim terdahulu, patut dicontoh.
Peradaban Islam hanya akan maju, jika umat Islam, tetutama kaum intelektual, gemar melakukan terobosan-terobosan, inovasi dalam melahirkan hasil-hasil penelitian dalam berbagai bidang ilmu.
Umat Islan akan mengalami kemunduran peradaban, jika umat Islam malas, tidak memiliki kreativitas, inovasi untuk kemajuan peradabannya. Sebagaimana pernah dialami pada masa lalu dan mungkin ssmpai abad ini.
Ternate, 22/7/20


Komentar
Posting Komentar