CORAK KEISLAMAN MASYARAKAT KEPULAUAN


CORAK KEISLAMAN MASYARAKAT KEPULAUAN (tanggapan  atas artikel pak Dr. Syaifuddin)

Oleh : Hamzah

Ini tulisan reflekasi saja. Respon positif atas artikel teman Dr. Syaifuddin--selanjutnya saya sebut saja "pak Syaif"-- "Menghidupkan Kembali Diskursus Islam Kepulauan". Ditulis 21 Juli 2020.

Ini bukan perselisihan. Bukan protes-memerotes, seperti yang dilakukan al-Ghazali, memetotes  filosof Ibnu Rusyd. Diklaim sesat berpikir. Sampai menulis kitab "tahaafut al-falasifah".

Lantas Ibnu Rusyd mengkounter ulang al-Ghazali dalam kitabnya "tahaafut al-tahaafut".

Tulisan pak Dr. Syauf dan tulisan refleks ini, tidak ada pertentangan. Yang ada hanya sumbang-saran. Biasa bagi akademisi. Saling berbagi ide dan pikiran.

Spirit tulisan pak Syaif sebenarnya mengajak me-review, mengkaji ulang tentang wacana "Islam Kepulauan" (IK).

Ajakan ini tentu beralasan. Paling tidak, konsep IK masih tahap wacana atau konsep yang belum "dijamah" secara Substantif dan metodologis.

Benar kata pak Syaif, ini hanya pemantik.  Memantik gairah meriset.

Dalam tradisi penelitian. Jamak dikenal dengan "masalah" penelitian.  Ini menjadi sandaran, spirit lahirnya penelitian. Ada masalah.

Menurut saya, masyarakat Maluku Utara, kental dengan spirit Islam. Falsafah adat yang digali oleh leluhur orang Tetnate. Lahir syair adat berbunyi "adat matoto agama, agama matoto kitabullah, kitabullah matoto Jou ta'ala".

Namun menjadi pertanyaan, mengapa dari dulu sampai sekarang, belum ada keterangan sedikitpun tentang corak ke-Islaman masyarakat ?

Ini "madalah". Kegelisahan akademik kita bersama. Untuk menyingkap atau memecahkan masalah ketidakjelasan distingsi atau "nadzhab" Islam masyarakat.

Dalam konteks "Islam" di Maluku Utara. Beragam sumber lisan yang ada. Tokoh agama dan tokoh adat. Mungkin sebagian dari catatan sastra seniman. Mengisyaratkan  ke-Islaman masyarakat Maluku Utara, bercorak Syi'ah. Bercorak tasawuf  berbagai sekte. Bahkan bercorak "khas" sebagaimana prsktek ajaran Islam yang pernah ada.

Corak Islam yang dialamatkan kepada Syi'ah, terkait dengan isu pembawa Islam ke Maluku Utara disinyalir oleh tokoh adat kesultanan Ternate, semisal "Jou Kalem" H. Ridwan Dero (wawancara). Menyebut pembawa Islam yaitu Imam Ja'far Shadiq.

Islam disebut bercorak tasawuf Qadiriyah. Didasarkan kepada pendiri tarekat tetsebut, Syekh Muhyi al-Din Abu Muhammad Abd al-Qadir Jailaniy. Tarekat yang awalnya berpusat di Irak, lalu menyebar ke berbagai negara di Asia.

Islam bercorak khas. Praktek Islam yang unik. Terutama ritual-ritual mengantisipasi bencana alam, sejumlah praktek ibadah seperti menyambut dan mengamalkan puasa. Hajatan-keluarga dan sosial kemasyarakatan yang disandarkan kepada Islam.
Adnan Amal dalam bukunya  "Kepulauan Rempah-rempah" melukiskan ketidakhelasan pembawa Islam ke Maluku Utara. Beliau menulis bahwa kerajaan sudah ada sejak 1250 masehi.

Karena itu apa yang dikemukakan, masih bersifat asumsi belaka. Belum ada kata pasti dan jelas. karena belum berdasarkan kepada hasil penelitian yang dilakukan serius.

IK juga, seingat saya belum ada naskah atau hasil risetnya. Belum jelas oknum penelitinya. Kapan menelitinya. Kapan kajiannya.

Pernah 2 sampai 3 kali (saya ikut) dilaksanakan Seminar terkait IK. Lokal dan nasional. Tentu hasilnya tidak jelas. Belum ada hasil penelitian. Semuanya didasarkan kepada asumsi dan pandangan di buku dan sumber lain semata.

Kondisi ini, menjadi momen dan ajakan bagi kita semua untuk meneliti tentang model atau corak ke-Islaman masyarakat Maluku Utara.

Tentu saja hal ini penting. Agar khazanah dan hikmah tetpendam, dapat terkuak. Entah bercorak apa. Hal lain dan tidak masalah. 

Boleh jadi IK nanti memiliki konsep yang jelas dan ilmiah. Pasca riset.

Karenya perlu kejelasan banyak aspek. Dasar epiteme nya harus jelas kajiannya. Aspek sosio-historis dan antropologis masyarakat muslim yang bermukim di berbagai pulau, perlu digali dengan pendekatan yang pas.

Dalam pandangan saya, IK cukup menarik. Tapi karena terlanjur "dipopulerkan" sebelum nyata esensinya (ontologis), maka IK bagi saya, "populer sebelum lahir".

Bukankah IK terlanjur didaulat menjadi visi-misi sebelum tanggal kelahirannya ?

Ini saya hanya bermaksud "memancing" melakukan penelitian. Sebagaimana maksud pak Syaif juga. Bukan memantik lahirnya perdebatan.

Ternate. 21/7/20

Komentar

Postingan Populer