FITRAH DAN PENDIDIKAN AKHLAK

FITRAH DAN PENDIDIKAN AKHLAK  (Kado di Hari Anak Nasional)
Oleh: Hamzah & Basaria Nainggolan

Empat belas abad lalu. Muhammad saw. pembawa risalah Islam. Sekaligus pendidik akhlak terbesar, sepanjang sejarah.

Michael H. Hart, sorang astrofisikawan. Tokoh Oeientalis Barat. Mengarang buku yang terbit 1978, "100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia".

Hart mendaulat Muhammad di ranking pertama. Tentu bukan tanpa alasan.

Selain beliau dianggap tokoh paling berhasil gemilang menyebarkan Islam di 2/3 belahan dunia dalam waktu singkat.

Alasan lain,  karena beliau memiliki jasa besar dalam menanamkan pendidikan akhlak kepada umatnya. Bahkan umat manusia.

Kebesaran nama dan kepribadian beliau yang berintegritas (jujur dan amanah), menjadi faktor  penting bagi kesuksesan beliau menyampaikan rusalah.

Allah sendiri pernah mendeklarasikan bahwa "sungguh engkau-- Muhammad-- benar-benar, berbudi pekerti yang agung" (al-Qalam: 4).

Di sisi lain, beliau mengakui bahwa gegara dia diutus menjadi rasul. Tidak lain kecuali untuk menyempurnakan akhlak mulia.
***

Dalam konteks Muhammad saw. sebagai pendidik terbesar. Beliau mengintrodusir sejak awal, aspek-aspek yang paling fundamental bagi pembentukan kepribadian anak.

Konsep ini, kemudian dianggap paling ideal, dalam pembangunan akhlak anak.

Betapa tidak. Konsep pendidikan yang ditawarkan. Bertumpu kepada nilai-nilai Islam, sebagai sistem yang  komprehensif dan sempurna.

Salah satu ajaran penting Islam adalah perhatiannya terhadap pendidikan manusia dan kemanusiaan.

Tak heran, jika para Orientalis Barat, banyak berkiblat dan mengkaji Islam secara serius.

Dalam konteks pendidikan anak.  Rasulullah saw. memulai dengan mengusung topik paling penting, "Fitrah".  Setiap anak yang lahir, memiliki fitrah.

Fitrah, tidak sekadar bawaan lahir. Tapi ia anugerah, bersifat potensial transedental yang mengiringi setiap kelahiran sampai kematian.  Fitrah merupakan pitensi spiritual yang permanen.

Pendidikan awal dan terpenting dalam Islam, memaksimalkan potensi fitrah. Agar mampu bekerja dan berpengaruh positif kepada kehidupan anak.

Secara teologis, fitrah bermakna persaksian, ikrar suci atas eksistensi dan pengabdian-dalam arti menghamba- kepada Tuhan.

Sejak awal, setiap orang, pada dasarnya sudah terikat dengan ikrar ke-Ilahian. Setiap orang sudah memiliki spiritualitas tentang Tuhan.

Berbeda dengan pandangan teori "Tabula Rasa" dari John Locke yang menganggap setiap bayi, lahir tanpa bawaan apapun.

Islam dengan fitrah, anak memperoleh peluang untuk membangun dan memaksimalkan potensinya, melalui para pendidik. Terutama orang tua.

Dalam Islam, pendidik pertama dan utama adalah kedua Ibu dan bapak. Pembentukan kepribadian anak, sangat ditentukan oleh keduanya.

Orang tualah memiliki tanggung jawab mengolah, mengelaborasi potensi bawaan anak dan  bentukan pendidik.

Rasulullah saw. bersabda (HR. Muslim) :

عن أبي هريرة أنه كان يقول قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
 ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه وينصرانه ويمجسانه.

Artinya: Dari Abi Hurairah berkata, Rasulullah saw. bersabda "tidak seorangpun bayi dilahirkan, kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu bapaknyalah menjadikannya Yahudi, Nasrsni dan Majusi".

Ini berarti, pendidikan Islam adakah proses mengolah dan menempa fitrah sang anak. Atau kata lain, proses pembentukan mental-spiritual. Membangun aspek agama anak.

Agama sebagai sistem keyakinan sekaligus sosial kemasyarakatan. Harus menjadi prioritas.

Itu sebabnya,  Islam mendahulukan pembentukan mental-spiritual (akidah, tauhid).  Tauhid secara sederhana bermakna  "prinsip meng-Esakan Allah". Hanya Dia satu-satunya, dalam semua hal, tanpa kecuali.

Tauhid penting, sebab ia menjadi fondasi kokoh atas bangunan dan keberlangsungan hidup anak.

Tauhid merupakan episentrum atas segala lalu lintas dan bangunan yang ada. Bermula dari tauhid, pun juga berakhir harus dengan tauhid.

Sejak dini, anak-anak harus dipermantap tauhidnya.  Agar mereka terbentengi dari problem yang bisa menodai bawaan azali, fitrahnya.
***

Anak dan Kondisi Sosial Sekarang

Kondisi sosial dan pendidikan anak dewasa ini, memprihatinkan.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sebagai lembaga independen untuk perjuangan hak-hak anak.  Dalam beberapa tahun terakhir, prihatin dengan semakin meningkatnya sejumlah kasus, seperti pelecehan seks, eksploitasi, penganiayaan dan putus sekolah karena faktor ekonomi orang tua. 

Kondisi buruk tersebut, berdampak kepada kehidupan anak.

Mereka harus memperoleh,  perlindungan. Bahkan  tidak cukup, anak juga harus mendapatkan pendidikan yang lebih semakin mantap, selain  bimbingan khusus dari orang tua.
Di sisi lain, munculnya teknoligi  media sosial dengan segala macam konten. Akses yang mudah dan tak terbatas. Sungguh menjadi ancaman serius bagi anak.

Jika anak tidak dibekali dengan pendidikan akidah dan akhlak yang mantap.  Bisa dipastikan, mereka sangat mudah dan cepat terjerumus ke dalam pengaruh buruk teknologi media tersebut.

Di sinilah letak peran penting orang tua dan masyarakat, untuk mengontrol dan terus menerus menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam kepada anak.

Potensi fitrah yang sejak lahir, tertanam kokoh dalam jiwa anak. 
Harus diwujudkan dalam bentuk bantuan pendidikan yang lebih intensif.


Upaya pendidik mengarahkan anak secara serius,  sangat penting.  Agar mereka selalu berada di atas jalan yang sesuai dengan kecenderungan fitrah mereka, yaitu jalan menuju Tuhan.

Inilah benteng sekaligus kompas bagi anak yang mampu melindungi dan menuntun mereka, sejak lahir sampai saatnya kembali ke hadirat Sang Pencipta.[]

Ternate, 24/7/20

Komentar

Postingan Populer