BADAN BESAR SAJA TIDAK CUKUP

BADAN BESAR SAJA TIDAK CUKUP
Oleh :Hamzah

Sebagai pehobi mancing. Tentu saya selalu mencari cara dan momen untuk menyalurkan hasrat.

Terkadang, karena hasrat yang terpendam lama dan sudah menggebu-gebu, membuat saya uring-uringan.

Saya lalu mengajak-suatu saat waktu di kampung- teman-teman se-profesi, untuk turun lokasi.  Tentu saja, mereka senang bukan alang kepalang. Toh, mereka satu penyakit😄

3 orang teman yang berhasil saya goda. 1 orang gagal saya gaet. Alasannya sederhana, istetinya marah-marah. Katanya sih, ransum bahan memasak, menipis.

"Beras dan minyak goreng sudah habis, malah mau berleha-leha di luar. Belum tentu juga ada hasilnya". Ini ucapan isteri teman yang gagal tadi, dia menirukan ke saya.

Kami berdua, saling tatap membisu. Tiba-tiba kami tertawa terbahak-bahak, saat beliau tirukan kalimat isterinya.

Ya sabar aja.  Nanti juga suatu saat akan mengerti. Nasrhat saya.

Kasus di atas. Memang menjadi tantangan terberat bagi maniak mancing.  "surat Izin dari isteri", kadang menjadi materi diskusi dari para angler.

Saya sering berseloroh ke teman-teman, sekembali dari spot. Saya bilang "saya beruntung memiliki isteri yang mendukung saya, memancing".
***

Fokus ke rencana mancing tadi.  Kami berempat, setelah siap seluruh properti dan bekal ringan. Lets' go !

Target kali ini, di lengkungan atau lekuk sungai berair dalam dan penuh batang pohon hanyut. Maklum spot ini paling diburu para angler air tawar di sungai. Biasanya menjadi tempat persembunyian sekaligus area makan ikan, baik kecil maupun predator.

Spot ini, jarang dipilih oleh pemancing lokal. Bukan apanya, selain berair dalam, juga terkenal ada penghuninya, seekor  "buaya" besar dan sadis. 

Meski begitu, ada juga yang biasa nekat, karena ikannya rata-rata besar dan banyak. Konon, kata pemancing, dimana ada buaya di situ banyak ikan. Logis juga. Buaya tahu tempat makanan melimpah. Ikan tentu juga paham. Toh sama-sama ahli air.

Sesampai di spot,  sekira pukul 21:30 malam. Kami bersiap melempar umpan udang dan ulat pohon.  Ternyata arusnya sangat deras. Maklum baru saja banjir surut, sehingga air sungai masih sangat tinggi alias dalam dan berarus.

Dua teman sudah ada yang strike, tapi ikan sidat kecil.  Biasanya memsng saat banjir surut, ikan sidat meluap mencari makan yang biasanya melimpah.

Sebagai ikan berjenis pelagis (mencari makan di malam hari), tentu saja angler sering strike jenis ikan ini. Rasanya lezat dan gurih, terutama kalau dipanggang. Wow...nikmat bukan main.

Jam menunjukkan pukul 03:00 dini hari. Kami kurang beruntung kali ini.  Karena kurang strike, terpaksa kami memilih untuk ngobrol, sambil mengisap rokok di tengah dingin dan hembusan deras angin malam.

Tak ada cahaya sedikutpun di lokasi, karena bulan tenggelam. Kecuali cahaya api rokok yang menyala saat terhisap oleh 4 mulut lelaki senasib sehobi malam ini.

Gelak tawa sesekali pecah, karena teman 1 orang yang sama sekali tidak strike, mendapat ledekan, biasa.

Umpan kembali dilempar. Ini kesempatan terakhir. Saat di keheningan menunggu menit demi menit, menunggu umpan dapat sambaran.  Tiba-tiba seorang teman berteriak, minta tolong.

Pikir saya strike ikan predator.  Sial, ternyata mata pancingnya tersangkut di akar kayu yang berserakan di pinggiran sungai, sehingga dia paksa tarik. Parah, joran berikut reel ikut jatuh dan hanyut.

Teman-teman menyarankan untuk dibiarkan saja. Alias "nyajen", istilah para angler, jika peralatan mancing, putus, jatuh dan lain-lain.

Teman korban ini bersikeras agar joran harus ditemukan dan dibawa pulang.

Katanya, akan dapat semprot dari isteri, karena sebagian harganya, katanya hasil dari patungan  isterinya. Maklum, kelompok kami bukan terdiri dari orang-orang kaya.

Jadi ? diputuskan harus ada teman yang terjun ke sungai, menyelam dan menemukannya.

Tak ada seorangpun yang berani. Semua menolak. Bahkan  2 teman yang berbadan tinggi besar. Atletis. Namun kedua teman ini, sumpah tidak berani.

Berselang beberapa saat. Rasa iba dan solidaritas pertemanan muncul.  Saya buka baju dan celana panjang. 

Di kegelapan malam, di deras air yang bersuara gemuruh. Saya melompat sekira 2-3 meter ketinggian. Karena air sungai memang masih dekat di permukaan. Habis banjir.

Saya menyelam menyusuri akar-akar pohon dan sampah berserakan. Kali pertama menyelam, gagal. Saya muncul untuk mengambil nafas.

Menyelam kali kedua, gagal karena terseret arus. Terpaksa naik ke darat ulang dan pergi ke posisi awal.

Kesempatan ketiga, saya bilang, ini yang terakhir. Jika gagal, ya ikhlaskan saja. Mau bagaimana lagi ? Ucapku ke teman-teman.

Saya melompat dan berpegang hati-hati dan sekuat mungkin. Rasa takut membayangkan  buaya besar dan menemukan joran, campur jadi satu.

Doa saya panjatkan. Guru ngaji kampung saya, dulu pernah mengajari ayatnya, dibaca saat menghadapi situasi kayak begini. Ini tidak bisa dishare. Harus ada transaksi yang jelas. Bukan uang bukan emas. Tapipaling tidak nasi pulut sama ayam gulai, ha ha ha😄

Tiba-tiba, tali pancing menyentuh kski saya. Saya berusaha meraih tali itu. Menyelam lebih dalam lagi.  Padahal tertinggal sisa nafasku hampir habis. Terpaksa saya muncul ke permukaan untuk menarik nafas sambil berpegangan di ranting pohon.

Saya ulangi menyelam di tempat tali pancing tadi menyentuhku. Alhamdulillah, saya sudah memegang talinya. Tinggal menelusuri jorannya.

Saya pilih memutuskan nilon yang dekat dengan mata pancing, agar saya leluasa bisa menarik joran.

Tetnyata, jorannya sudah jauh terbawa arus. Untung tali pancingnya berjenis PE, super kuat untuk sekadar menarik berat joran dan reel sekaligus.

Saya berhasil. Mengangkat jorannya. Meski berat karena arus deras.  Syukur saya bisa selamat dari ancaman predator buaya yang terkenal sadis itu. Ia memang penghuni dan penjaga lengkungan sungai tetsebut. Cerita penduduk yang bermukim di sekitar lokasi itu.

Teman pemilik joran, merasa lega. Dia mungkin berpikir, sudah bisa lepas dari teror dan serangan dari isteri.

Dia mengucapkan terima kasih. "Sama-sama", jawabku.
***

Apa yang kita bisa petik dari kisah petualangan kecil di atas ?

Pertama, solidaritas pertemanan. Sekecil apapun pertemanan, solidaritas harus dibangun bersama. Ini untuk memperkuat jika menghadapi masalah. Sekaligus agar pertemanan bisa langgeng.

Kedua, kerjasama. Harus memiliki prinsip kerjasama. Hal-hal berat yang dihadapi, akan mudah  dengan kerjasama.

Ketiga, ini teori dan ini penting menurut saya. Ternyata badan yang kekar, tinggi besar. Tidak menjamin memiliki nyali dan keberanian yang besar pula.

Keempat, saran bagi teman-teman pehobi mancing. Pilihlah calon isteri yang sedapat mungkin bisa mendukung hobimu.  Saling berjanjilah bahwa kelak di kemudian hari,  tidak akan ada protes apalagi marah, jika ada program mancing.
***

Saat di perjalanan pulang. Saya berseloroh kepada kedua teman berbadan besar tersebut. "Badan besar tinggi saja tidak cukup  ehh".

"Jangan begitu kawan" sanggah mereka, suara agak tinggi. Buktinya ? saya setengah bertanya.  Salah seorang, lantas bilang "saya bersumpah, suatu saat jika kita menghadapi musuh dan harus berkelahi, kalian menonton saja. Saya yang akan mainkan". Dia agak emosi.

Saya bilang, "simpa emosimu. Untuk menghadapi istetimu nanti di rumah, karena pulang tidak membawa hasil apa-apa".
***
Kami sudah tiba kembali di rumah mading-masing. Saat kumandang adzan di masjid Taqwa, Salojampu, Sabbangparu, tetdengar sangat jelas. Pertanda Allah sedang  memanggil hamba-Nya untuk menunaikan shalat Subuh.
***
[] Kisah ini ditulis dalam rangka mengisi waktu yang lowong. Agsr tidak sia-sia. Selain itu, latihan menulis dan merenung.

Ternate, 23/7/20
<hamzh giling>


Komentar

Postingan Populer