KRISIS PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN
Hamzah
Dosen.pengampu mata kuliah Tasawuf, IAIN Ternate.
PENDAHULUN
Baik pemimpin maupun kepemimpinan (leadership), keduanya meniscayakan selain kemampuan dan keahlian, juga harus memiliki keteladanan tentang sikap, sifat dan perilaku yang baik dan bijaksana (integritas).
Pemimpin sangat tidak cukup, jika hanya berbekal pernah atau sedang menjadi elit sebuah organisasi massa. Pun juga amat tidak menjamin jika hanya berbekal popularitas tok. Apalagi dibangun di atas tumpukan primordialisme dan fanatisme kelompok, baik suku maupun organisasi.
Idealnya pemimpin dan kepemimpinan, selain memiliki integritas, juga mempunyai visi dan misi yang jelas dan mantap. Arah dan haluan apa dan ke mana lembaga hendak dibawa, harus jelas dan terukur.
Kelemahan sekaligus ketidakmampuan pemimpin menjalankan roda kepemimpinannya atau lembaganya, biasanya karena ketidakjelasan definisi visi misi, ketidakmampuan membrikdaun, maupun ketidaktahuannya memulai bergerak dari mana, apa yang semestinya dilakukan dan strategi apa yang digunakan untuk mengeksekusi rencana-rencana dan keputusan yang telah ditetapkan.
Di berbagai kesempatan, seringkali seorang pemimpin--di berbagai tingkatan--gagap menjelaskan definisi visi misi mereka, berikut peta dan substansinya. Apalagi menyangkut soal-soal besar yang berkaitan erat dan langsung dengan prestasi dan kemajuan lembaga.
Belum lagi soal bagaimana menyatukan persepsi dan focusing target bagi para bawahan semisal ketua-ketua dan kepala unit atau lembaga.
Sampai pada tataran ini, sudah kelihatan rapuh dan lemahnya personal dan kompetensi pemimpin dan sistem kepemimpinan yang dibangun dan dijalankan. Akibatnya, mudah ditebak, selain akreditasi lembaga terpuruk, juga pemenuhan kesejahteraan dan keadilan dosen dan pegawai menjadi minimalis.
Ini masalah cukup serius yang tidak bisa didiamkan. Masalah "krisis pemimpin dan kepemimpinan". Ketokohan yang kuat, kharismatik, terutama sikap cerdas dalam makna kreatif-inovatif membawa lembaga memiliki daya saing dan posisi tawar yang tidak kalah dengan kampus-kampus berprestasi, menjadi keharusan. Ini hal sangat penting dan niscaya. Harus selslu ada warning dan semacam alarm yang akan menyadarkan semua. Kita tidak bisa bermasa bodoh atau berpuara-pura tidak tahu menahu.
Sayang seribu sayang, jauh panggang dari api. Belum hadir di lembaga kita, pemimpin ideal seperti tergambar di atas atau di bawah ini. Karena itu, sekali lagi, kita mengalami krisis pemimpin dan kepemimpinan.
PEMIMPIN IDEAL
Pemimpin dari semua level, seyogiyanya memiliki program kerja dan peta yang jelas. Paham betul apa dan bagaimana harus bekerja dan apa yang hendak dikerjakan. Tidak ada salahnya ya mbok, sesekali bercerminlah pada apa yang dilakukan oleh pemimpin di berbagai kampus maju dan berprestasi. Ini hal positif dan membawa dampak positif yang signifikan. Hilangkan jiwa inferior dan minder, demi kemajuan lembaga.
Pemimpin yang hebat dan sukses tentu saja selalu diharapkan dan dinantikan kehadirannya. Hadir membawa kesejahteraan, keadilan dan kemajuan untuk semua orang dan kelompok.
Jika ada pemimpin seperti ini dan dapat menjalankan kepemimpinan dengan baik, kita semua optimis akan mengalami sebuah kemajuan yang luar biasa dari berbagai aspek.
Sayangnya, sampai saat ini menurut saya, belum hadir seorang pemimpin dambaan semua kalangan dan kelompok, baik pribumi maupun imigran, sebagaimana pernah dulu hadir pemimpin yang tidak saja memiliki kompetensi yang baik, tetapi juga integritas tinggi serta kharisma yang kuat dan berpengaruh. Sebut misalnya Baharuddin Lopa dan KH. Sahabuddin yang telah meninggalkan kesan baik dan kedekatan emosional dan psikologis, baik kalangan masyarakat Dufa-Dufa maupunn masyarakat kota Ternate dan Maluku Utara.
Terus, solusinya bagaimana ?
Sebagai umat Islam, alangkah patut dan selayaknya meneladani figur pemimpin dan kepemimpinan Rasululluah saw.
Terlepas dari aspek kerasulan beliau, paling tidak dan tidak ada salahnya mereview karakteristik kepemimpinan beliau.
Rasulullah saw sebagai pemimpin terkemuka dan tersukses, oleh Allah mengamanahkan sikap dan karakter kepada beliau : 1) jujur~shiddiq, 2) amanah~amanat, 3) cerdas~fathanah, dan 4) transparan~tabligh.
Keempat karakter pemimpin di atas, menjadi penting dan relevan saat ini. Mengingat hari demi hari, kita semakin kehilangan figur dan teladan seorang pemimpin.
Esensi dari karakter pemimpin di atas, tidak terlepas dari kata kunci "intergritas, kompetensi dan akuntabilitas".
Integritas merupakan tabiat yang dimiliki seseorang, berhubungan dengan moralitas dan spiritualitas. Karakter ini menjaga dan merawat pemilikinya untuk selalu bertindak sesuai dengan nilai-nilai agama, sosial dan adat.
Pemimpin berintegritas, tentu saja seluruh sepak terjang, keputusan dan kebijakannya, selalu mempertimbangkan aspek demokratis dan keadilan.
Sedangkan aspek kompetensi merupakan kemampuan dan keahlian intelektualitas yang dimiliki seorang pemimpin. Konsekuensi dari karakter ini adalah melahirkan sosok pemimpin yang kreatif dan inovetif, tidak mudah kehilangan gagasan. Mampu secara intelektual dan spiritual menjelaskan secara filosofis dan mendalam tentang hal-hal yang ditawarkan dan hendak dijalankan. Begitu juga memiliki wawasan yang luas serta selalu bisa dengan mudah keluar dari masalah yang dihadapi.
Sedangkan adpek akuntabilitas adalah rasa tanggung jawab yang tinggi. Pemimpin yang memiliki rasa bertanggung jawab. Semua tindakannya atau anak buahnya yang tidak tepat, ia memiliki rasa bertanggung jawab atas semuanya.
Hanya pemimpin yang mengejawantahkan keempat karakter tersebut, dapat menjadi pemimpin yang kuat, mantap dan sukses. Konsistensi dan ghirah yang kuat, mengantar seorang pemimpin yang ideal dan tentu saja selalu ditunggu kehadirannya.[]
Ternate, 6 Juli 2020


Komentar
Posting Komentar