KULIAH AKHLAK
KULIAH AKHLAK
Hamzah
Jumat, 17 Juli 2020 lalu. Saya kedatangan mahasiswa. Katanya angkatan 2013. Saya tanya maksud menemui saya.
Saya minta bantu pak. Bantu apa ? Sambutku. Bantu saya kasih nilai mata kulah X.
Saya lalu meyakinkan. Kalau ada mahasiswa saya yang tidak lulus. Itu artinya dia bermasalah. Tradisi saya, mencatat bukti-bukti proses kuliah, sangat rapi dan akurat.
Saban hari ada mahasiswa memerotes nilai. Saya tinggal bukakan catatannya. Belum pernah ada mahasiswa mampu ngomong di depan saya. Saya bicara bukti dan fakta.
Tapi karena mahasiswa tadi menyebut angkatan 2013. Saya lantas berpikir. Mahasiswa ini dalam ancaman DO.
Rasa iba saya mulai muncul. Saya diam merenung. Mencari jalan keluar. Kalau dia ikut program kuliah ulang, tidak mungkin. Waktunya habis.
Saya ada ide. Menugaskan mencari buku X yang standar. Membacanya tamat. Meresumenya dengan baik. Nanti saya ujikan dengan sejumlah pertanyaan pokok. Mampu menjawab baik. Saya bantu dia.
Dua hari berselang. Dia menelepon dua kali, saya tidak jawab. Dia sms, saya baca tapi tidak balas. Menghindari masalah.
Dari sms dia inilah yang membuat saya "marah". Tiba-tiba sikap tegas dsn keras saya muncul. Saya merasa seperti dilecehkan.
Ustad boleh saya langsung minta nilai ?
Demikian kira-kira maksud sms nya. Saya diam. Geram. Membaca sms arogan tidak sopan.
Pikir saya, cara ini merusak sistem. Membuat lembaga pendidikan terpuruk. Menjatuhkan mutu akademik yang memang sedang seret.
Saya merubah keputusanku. Rasa iba tidak boleh prioritas. Membangun mutu dan disiplin harus utama.
Bagi saya, pendidikan "akhlak" lebih penting dari yang lain. Saya memberi kuliah. Pesan akhlaknya 60%, 40% bangunan intelektualitas dan lainnya.
Jika ditanya semua mahasiswa yang pernah saya kuliahi. Mereka akan jawab ya.
Mengapa seperti itu ? Karena saya "membaca" kondisi dan fakta mahasiswa. Mereka bukan tidak pintar. Akhlak merekalah yang rendah.
Tindakan demo anarkis, mahsiswa memalang pintu-pintu kantor dan ruang kuliah secara sangat brutal. Mengusir dosen yang sedang kuliah. Bukti rendahnya akhlak mereka.
Tak satupun dosen yang mampu melawan kebrutalan mereka saat itu.
Saya pasang badan. Saya buka paksa palang balok kayu mereka, di depan mereka. Pikir saya, ini ruangan saya, ruanfan kami LP2M. Tempat kami bekerja mengabdi. Harus dipertahankan hak kami.
Harga diri harus dipertaruhkan. Mereka mendemo dan hendak memaksa pasang ulang palang. Saya tidak bergeming.
Bagi saya. Ini bentuk kuliah, pendidikan moral dan peradaban. Meski dengan taruhan apapun.
Pendemo mundur. Menghadapi saya yang ngotot. Palang balok kayu gagal tertancap ulang. Satu-satunya pintu.
Setali tiga uang.
Mahasiswa pengemis nilai tadi. Sedang juga saya kuliahi "akhlak". Bukan tentang IQ.
Saya mendidik dia dengan nilai akhlak.
Tugas selanjutnya. Kalau dia paham. Bisa menangkap pesan moral saya.
"Membangun nilai, bukan mengemis nilai".
Ternate. 20/7/20


Komentar
Posting Komentar