POTRET BURAM SDM DAN PENDIDIKAN

POTRET BURAM SDM DAN PENDIDIKAN

Oleh: Hamzah

     Miris sekali. Jika menyinggung kualitas pendidikan kita saat ini. Seorang pengamat pendidikan, Indra Charismiadji, mengungkapkan hasil riset dalam Jurnal Center for Economic Education, bahwa anak Indonesia siap menghadapi abad 21 di abad 31.
     SDM Indonesia dianggap ketinggalan 10 abad atau 1000 tahun. Juga berarti, kita belum siap menghadapi tantangan  di setiap abad.
     Alasan yang dikemukakan, cukup menyakitkan hati, bahwa anak-anak Indonesia, tidak memiliki kemampuan memahami literasi. Mereka bisa membaca, tetapi mereka buta aksara secara fungsional.  Tidak mampu memahami bacaan mereka.
     Faktor ketertinggalan kita dibandingkan dengan bangsa lain, disebut dengan dua komplasensi (menganggap semua baik-baik saja).
     Komplasensi pertama, saat pertumbuhan ekonomi membaik, 2000-2018 lalu menganggap otomatis pendidikan juga membaik.  Padahal kondisinya berbeda.
     Komplasensi kedua, pemerintah bidang pendidikan, konsultan pendidikan, menganggap program-program pendidikannya sudah terbaik.  Padahal tidak sama sekali.
     Terjadi apa yang disebut "business as usual with more money". Kegiatannya sama saja, tetapi dananya bertambah terus.
     Kasus Kemendikbud tentang Merdeka belajar, PJJ (pembelajaran jarak jauh) daring, POP (program organisasi penggerak) dan lain-lain.  Oleh sebagian pengamat menyebutnya sebagai program 'daur ulang' dari negara lain.
     Apa yang disampaikan di atas. Faktanya begitu.  Kondisi pendidikan kita semakin terpuruk.  Negara tetangga yang dulu berada di bawah negara kita.  Kini sudah bertengger di atas Indonesia. Seperti Malaysia. Vietnam dan Thailand.
     Kondisi pendidikan dan SDM yang sedemikian memprihatinkan. Diperparah oleh rezim yang tidak solid dan tidak memiliki arah yang jelas.  Korupsi semakin menggurita. Kasus pengusulan RUU HIP dipaksakan, Integritas aparat penegak hukum hancur.
     Kasus Djoko Tjandra, menjadi salah satu contoh buruknya penegakan hukum dan bobroknya moralitas sebagian pemimpin.
     Apa yang harus dilakukan ?  Tidak ada pilihan lain, kecuali mengejar ketertinggalan bangsa kita dengan cara yang tepat dan serius.
     Pembentukan karakter, mau tidak mau, harus lebih diintensifkan.  Tidak kalah penting, kegiatan riset dan kajian-kajian ilmiah, harus menjadi prioritas.
     Meski terlambat, budaya literasi, harus tetap digelorakan.  Paling tidak, bisa menggeser peringkat ke-60 dari 61 negara, sudah syukur.
    Dari data rilisan World’s Most Literate Nation tersebut, membuktikan kita memang ketinggalan, jauh. Tapi ini bukan 'pesimisme'.[]

Ternate, 30/7/20

Komentar

Postingan Populer