SPIRIT LITERASI
SPIRIT LITERASI
(Belajar Budaya Baca Orang Jepang)
Oleh: Hamzah
Berbeda dengan bangsa berbudaya baca tertinggi di sejumlah negara. Indonesia memiliki peringkat literasi baca sangat rendah.
Bahkan Indonesia termasuk dalam status "darurat literasi".
Laporan hasil riset World’s Most Literate Nations yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara.
Untuk keluar dari kondisi naas itu. Hemat penulis, tidak ada pilihan kecuali membangun Spirit Literasi. Bekerja keras melakukan transformasi budaya litetasi.
Memang butuh waktu lama dan kerja keras. Tapi tidak ada pilihan lain, jika ingin menyelamatkan bangsa dari keterpurukan literasi.
Hemat penulis, tidak ada kata terlambat. Juga tidak ada salahnya kita belajar atau meniru bangsa-bangsa ysng sudah sangat maju budaya membacanya. Negara-negara seperti Finlandia, Belanda, Swedia, Australia dan Jepang, layak menjadi tempat perguruan literasi.
Budaya Baca Orang Jepang
Jepang salah satu negara dengan bangsa berbudaya baca sangat tinggi. Sudah rahasia umum. Orang Jepang sudah terbiasa membaca saat sedang berada di ruang publik, seperti kereta api, di mall, restoran atau di kafe. Bahkan saat antri di depan kasir toko buku.
Budaya baca orang Jepang yang sangat tinggi, tidak muncul secara instan apalagi "simsalabim". Tapi keadaan itu, terbangun secara serius dan terncana dalam waktu sangat lama.
Pemerintah Jepang di bawah komite perpustakaan, menjalankan sejak lama, sebuah program, setiap bayi yang sudah berumur 4 bulan, didatangi rumah orang tuanya untuk diserahkan surat anggota perpustakaan.
Artinya, budaya baca orang Jepang, memang sudah terbangun sejak dini untuk setiap anak. Sejak bayi sudah diajarkan dan dibiasakan gemar membaca.
5 Sebab Budaya Baca Orang Jepang Sangat Tinggi
Membaca bagi orang Jepang, selain sudah merupakan gaya hidup, juga sudah menjadi kebutuhan sehari-hari.
Lantas, hal apa saja yang mendorong dan mendukung budaya orang Jepang sangat tinggi ? Berikut 5 penyebabnya :
Pertama, Tachiyomi
Tachiyomi, berati membaca buku sambil berdiri di toko buku secara gratis.
Budaya ini unik, untuk ukuran Indonesia. Kita tidak akan pernah jumpai kesempatan ini, sampai kiamat mungkin.
Membaca buku seperti ini, menjadi tradisi di Jepang. Bahkan penjual toko buku menyiapkan buku-buku berkualitas untuk pembaca ala Tachiyomi, tanpa merasa rugi sedikitpun.
Kedua, Sekiguchi.
Sekiguchi merupakan program belanja buku terbitan terterbaru melalui TV.
Penonton melihat review buku. Jika berminat, penonton tinggal mengontak panitia program.
Program ini, turut memicu minat baca semakin tinggi masyarakat Jepang.
Ketiga, 10 Menit Siswa Wajib Baca Buku.
Harian nasional Jepang, Yoshiko Shimbun, terbitan Tokyo, merilis bahwa budaya baca masyarakat Jepang, diawali dari sekolah.
Para guru mewajibkan siswa membaca selama sepuluh menit, sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.
Pakar pendidikan di Jepang menyebut, bahwa pembiasaan membaca ini cukup efektif. Karena dilakukan sejak usia dini dan berlangsung terus menerus.
Tidak heran, jika budaya baca di Jepang selain sangat tinggi, tapi juga konsisten.
Keempat, Ruang Publik Untuk Membaca.
Salah satu keunggulan literasi baca orang Jepang adalah menjadikan ruang publik sebagai taman baca.
Fasilitas publik seperti kafe, restoran, alat transportasi, rata-rata dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat untuk membaca.
Membaca di tempat-tempat publik seperti ini, sudah membudaya bagi masyarakat Jepang.
Itulah sebabnya buku-buku yang dicetak di Jepang, biasanya lebih kecil atau disesuaikan agar bisa lebih mobile dan memudahkan pembaca, saat di manapun.
Kelima, Toko Buku Melimpah.
Salah satu sumber berita,
Bunkanews, membeberkan data. Jumlah toko buku di Jepang, sama banyaknya jumlah toko buku di Amerika Serikat.
Padahal wilayah AS dibanding Jepang, lebih luas 26 kali lebih luas. Jumlah penduduknyapun dua kali lebih banyak dari Jepang.
Melimpahnya toko buku di Jepang, menjadi indikator, betapa tingginya minat dan budaya baca masyarakat Jepang.
Sangat kontras dengan Indonesia. Selain jumlah toko buku yang minim, minat membeli bukupun rendah. Akibat budaya baca masyarakat yang rendah pula.
Apa yang Harus Kita Lakukan ?
Sebagai bangsa yang tergolong masih sangat rendah budaya literasinya, tidak ada pilihan, kecuali belajar meniru spirit literasi bangsa Jepang.
Membangun komitmen dan disiplin, menjadikan "menbaca" sebagai gaya hidup dan sebagai kebutuhan. Meskipun pembiasaan membaca sejak usia dini yang dilakukan pemerintah. Butuh political will dan waktu yang sangat lama.
Mari membangun spirit literasi, mulai dari diri sendiri dan dari sekarang. Mari mengimplementasikan spirit wahyu yang turun pertama kali, "Bacalah".[]
Ternate, 26/7/2020


Komentar
Posting Komentar